Wednesday, 19 November 2014

AR Baswedan : Tokoh Pemersatu Indonesia Keturunan Arab

Mendengar nama AR Baswedan mungkin kita teringat akan sosok Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia Anies Baswedan. Ya, AR Baswedan adalah kakek dari Anies Baswedan. Abdurrahman Baswedan lengkapnya lahir di Surabaya, 9 September 1908.


AR Baswedan adalah seorang pemberontak di zamannya. Harian Matahari Semarang memuat tulisan Baswedan tentang orang-orang Arab, 1 Agustus 1934. AR Baswedan memang peranakan Arab, walau lidahnya pekat bahasa Jawa Surabaya, bila berbicara. Dalam artikel itu terpampang foto Baswedan mengenakan blangkon. Ia menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli : di mana saya lahir, di situlah tanah airku.

Pengamat politik, Fachry Ali, mengatakan bahwa pada 1934 saat Indonesia masih sebagai konsep, AR Baswedan berani menyatakan dirinya dan kaumnya bertanah air Indonesia. Dalam Konferensi Peranakan Arab pada Oktober 1934, dia tidak ragu mendeklarasikan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab: tanah air peranakan Arab adalah Indonesia.

“Itu menjadi sebuah perjudian, sebab kala itu mereka tidak mengerti bahwa suatu saat Indonesia akan merdeka,” ujar Fachry Ali dalam diskusi buku AR Baswedan: Membangun Bangsa Merajut Ke indonesiaan karya Suratmin dan Didi Kwartanada, di Auditorium Monumen Nasional, Jakarta Pusat, 25 September 2014

Pada konferensi itu juga terbentuk Persatuan Arab Indonesia (PAI), diketuai Baswedan. Selain karena prihatin akan konflik yang berlarut-larut dalam golongan Arab, keberhasilannya dalam menggalang persatuan Arab juga terilhami oleh jejak kaum keturunan Tionghoa dalam membentuk Partai Tionghoa Indonesia (PTI), yang berorientasi nasionalis pada 25 September 1932, serta pergaulannya dengan Liem Koen Hian, pendiri PTI yang juga mitra kerjanya di Sin Tit Po. Baswedan mengasuh sebuah rubrik “Abunawas”, yang berisi kritikan dengan mengambil kejadian-kejadian Hindia Belanda.

Lepas dari Sin Tit Po, Baswedan bergabung dengan Soeara Oemoem pada 1933, dengan redaktur dr. Soetomo, tokoh Boedi Oetomo. Dia hanya bertahan selama setahun, dan kemudian pindah ke harian Mata Hari, sebelum aktif dalam menggalang persatuan komunitas Arab.

Redaktur Majalah Sejarah Historia, Hendri F Isnaeni mengatakan, AR Baswedan mencoba mendobrak pikiran warga keturunan Arab lewat Partai Arab Indonesia (1934-1942). AR menegaskan bahwa Indonesia adalah ibu pertiwi dari keturunan Arab.

Hendri mengatakan AR menyadari ada kepentingan bangsa yang jauh lebih besar dibandingkan kepentingan untuk membela komunitasnya sendiri. Oleh karena itu, dia berjuang menyelesaikan konflik internal diantara kalangan Arab dan berbicara tentang Keindonesiaan.

"Ada keyakinan di masyarakat Arab, untuk menjadi pemimpin harus berasal dari lapisan sosial atas masyarakat Arab, harus kaya dan dihormati. AR mencoba melawan itu semua," ujarnya.

Menurut Setyo Wibowo, pengajar sejarah filsafat Yunani dan Metafisika di STF Driyarkara Jakarta, Baswedan dapat menjadi seorang “pemberontak” karena pendidikan ayahnya, yang mengajarkan hidup jujur, berbudi pekerti baik, dan berhubungan baik dengan orang lain. “Dalam dirinya tumbuh sifat tidak mau tinggal diam melihat ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat,” kata Setyo. Selain pengajaran ayahnya, bibit berontak muncul karena bakat alamiahnya.

Anies Baswedan, cucu AR Baswedan, mengenang pengalamannya bersama Datuk Mang, sapaannya kepada sang kakek. Sewaktu tinggal bersamanya, dia beserta anggota keluarga lain diajarkan untuk berpikir kritis. “Meja makan merupakan tempat di mana anggota keluarga bisa saling mengeluarkan pendapat dan berdebat,” ujar Anies.

Anies mendampingi sang tokoh perajut keindonesiaan itu hingga berpulang ke pangkuan sang Ilahi pada 5 Maret 1986. “Sebelum beliau meninggal, sempat berpesan agar menjaga nama baik, sebab kita hanya meninggalkan nama baik,” kenang Anies.


Sumber : beritasatu.com
Post a Comment